Sulit rasanya untuk memejamkan mata malam ini.. Izinkan aku
menulis karna.. aku merasa kepalaku penuh sesak dan hatiku berat.
Aku butuh kamu, sebagaimana hari-hariku yang lalu, hadir
sebagai stabilizerku. Kamu satu, tapi peranmu banyak dan tak tergantikan, oleh
siapapun. Saat sedih dan tertekan yang harus aku hadapi sendiri, aku telan
pahitnya rasa-rasa itu dan aku terlalu egois. Padahal aku punya kamu, tempatku
berbagi, berkeluh kesah, tentang apapun, bagaimana aku menghadapi orang-orang,
menjalani hari-hari yang indah namun terkadang juga berat. Bukan bermaksud
menambah beban berat yang mungkin sedang kamu pikul juga, melainkan berdua kita cari
jalan untuk memecahkannya.. dan berakhir dengan bersepakat seperti biasanya.
Hening dan senyap aku rasa malam ini. Malam sepertinya
mengerti bahwa aku sedang berada didalam situasi yang tak kuinginkan. Ini
adalah antara aku, malam, dan kesepian. Malam itu, rasanya aku sangat cengeng.
Aku menangis. Hampir dua tahun lamanya aku belajar beradaptasi dengan keadaan.
Keadaan yang memaksaku menjalani kehidupan seperti ini. Kehidupan yang kadang
bersamamu, kadang jauh darimu.
Tak aku pungkiri, hati dan raga rasanya selalu ingin dekat denganmu. Ajaklah aku untuk memilih dekat denganmu dan meninggalkan keadaan ini. Bagaikan api dalam sekam, lama-kelamaan permasalahan ini akan membesar bila tidak kita selesaikan. Tapi aku juga berpesan, kamu perlu tahu bahwa aku masih akan terus bersabar pada nasib yang membimbingku saat ini. Sampai nantinya kita dapat bersepakat tentang keputusan-keputusan yang baru lagi.
Tak aku pungkiri, hati dan raga rasanya selalu ingin dekat denganmu. Ajaklah aku untuk memilih dekat denganmu dan meninggalkan keadaan ini. Bagaikan api dalam sekam, lama-kelamaan permasalahan ini akan membesar bila tidak kita selesaikan. Tapi aku juga berpesan, kamu perlu tahu bahwa aku masih akan terus bersabar pada nasib yang membimbingku saat ini. Sampai nantinya kita dapat bersepakat tentang keputusan-keputusan yang baru lagi.
Aku selalu percaya pada mimpi, impian-impian yang aku
kita bangun. Mereka akan mewujud nyata karena semesta bekerja. Tapi, aku sedih,
saat ini bahkan rasanya aku tak memiliki mimpi. Hanya satu yang masih dapat aku
harapkan, hidup bersamamu. Tinggal satu atap lagi, tidak merepotkan orang tua
kita, hanya itu dulu. Suatu saat kita kumpulkan impian kita sama-sama dan
merakitnya, lalu mewujudkannya. Selalu. Bersama-sama. Denganmu.
Maafkan aku. Aku seorang istri yang memiliki banyak ingin.
Kamu selalu memberi, tapi tidak dengan aku. Aku belum bisa membahagiakanmu, aku
belum bisa menjadi sosok yang dapat engkau banggakan. Aku pun merasa payah. Sangat
payah!
Kata orang, sabar itu kuncinya. Aku berharap, kamu masih
berteman dengannya. Aku harap kamu tak bosan.
Aku mencintaimu.
Tak perlu rasanya bercerita panjang lebar betapa
menyedihkannya hal ini. Iya, aku menyedihkan. Aku bahkan masih tak mengerti
harus bagaimana. Aku tak pandai memilih sikap maupun mengambil keputusan.
Aku rindu. Aku hanya rindu. Dengan suamiku. Sepenuhnya aku
rindu.
Aku berdoa, terus berdoa. Dengan penuh belas dan harap pada
Engkau, Yaa Allah.. Aku mohon dekatkanlah kami. Dekatkan raga dan juga hati
kami. Dekatkan lah aku dengan suamiku. Berikanlah kesempatan untuk dapat
membangun rumah tangga yang sebagaimana mestinya.
Disetiap pertemuan kita, aku selalu bahagia. Bahagia dengan
hadirmu, keberadaanmu, tawamu, senyummu, padaku juga pada anak-anak. Aku
bahagia dengan candaan kita yang sering kali tidak jelas. Aku bahagia melihatmu
sehat.
Aku pun percaya, hidup bagai roda yang berputar. Semoga ini
akan segera sudah. Perpisahan yang sebentar untuk pertemuan yang lama.
Aku harap kamu juga yakin dengan hal itu.
Sekian. Sampai jumpa di pertemuan yang selanjutnya!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar