Apa alasanmu bertahan hidup, atau
setidaknya yang membuatmu bersemangat untuk menjalani hidup? Pertanyaan ini
muncul, dilatarbelakangi oleh karena belakangan nemuin beberapa temen yang
mereka dateng buat cerita apa yang lagi dihadapinya, nampaknya terasa berat, berkilah
untuk berkeluh bahkan hampir menyerah.
Mereka berkata bahwa sempat berkaca dariku untuk berani mengambil keputusan-keputusan besar, tetap membahagiakan diri sendiri ditengah-tengah kesibukan kita membahagiakan orang lain, tetap tenang dan menikmati kehidupan ditengah-tengah kesusahan yang sedang dialami. Sebetulnya aku hampir engga pernah merasakan demikian, lho. Malah aku seringnya merasa terlarut juga dalam kesibukan membahagiakan orang lain, pun dengan permasalahan didalamnya. Disisi lain aku bersyukur, ada hal baik dariku yang dapat mereka ambil.
Mereka berkata bahwa sempat berkaca dariku untuk berani mengambil keputusan-keputusan besar, tetap membahagiakan diri sendiri ditengah-tengah kesibukan kita membahagiakan orang lain, tetap tenang dan menikmati kehidupan ditengah-tengah kesusahan yang sedang dialami. Sebetulnya aku hampir engga pernah merasakan demikian, lho. Malah aku seringnya merasa terlarut juga dalam kesibukan membahagiakan orang lain, pun dengan permasalahan didalamnya. Disisi lain aku bersyukur, ada hal baik dariku yang dapat mereka ambil.
Ada satu hal yang dapat menjawab
pertanyaan ‘apa alasanmu untuk tetap hidup’, sejatinya bukan kita diciptakan
tanpa alasan. Salah satu alasannya karena cinta kedua orang tua kita, eh. Mmmm
coba renungi lebih dalam. Tuhan tak mencipta kita sia-sia, tak mencipta kita
untuk semau-maunya kita melakukan apa dikehidupan ini. Tidak. Melainkan ada
suatu hal yang Dia titipkan pada diri kita, yang menjadi misi spesifik dihidup
kita, dan apabila kita peka, kita dapat asah lebih jauh, selami lebih dalam,
kita akan temukan jawabannya. Jawaban tentang mengapa kita dilahirkan, untuk
apa kita hidup, alasan apa yang membuat kita bersemangat, dan
pertanyaan-pertanyaan sejenis lainnya.
Selalu ada hal istimewa di setiap
diri kita. Bila kita ingin merubah wujudnya menjadi sebuah cita-cita besar,
maka setiap diri kita akan mampu memberikan kebaikan bagi sebanyak mungkin
orang. Passion. Ga jauh-jauh dari itu, setiap orang pasti punya, kalo ada yang
sempet bilang engga, berarti dia cuma kurang peka aja sama dirinya sendiri.
Passion itu banyak ragamnya, bisa itu menulis jadilah ia seorang penulis,
menjahit atau membuat hal-hal baru yang berwujud kreatifitas jadilah crafter,
suka banget jalan-jalan jadilah traveller, suka bicara? Jadilah pembicara,
bahkan suka nge-game pun jadilah seorang gamer. Sukai, nikmati, seutuhnya. Jangan
setengah-setengah. Adanya orang-orang hebat berawal dari langkah pertama,
jadilah pemula. Namanya pemula pasti banyak salahnya, disitulah sebetulnya kita
sedang belajar, it's okay to make mistakes as long as you learn from it, sesekali coba deh nikmati prosesnya juga. Gimana mau jadi
‘sesuatu’ kalau tiap mau ujian menghindar teruuus, kapan juga ‘naik kelas’nya.
Adanya aku di titik sekarang ini
adalah apa yang jadi mimpi-mimpiku kemarin. Belum ada apa-apanya sih.. Ga
selalu kita harus membandingkan diri kita dengan orang lain yang lebih hebat.
Adakalanya, kita hanya perlu membandingkan diri kita hari ini dengan yang kemarin.
Supaya bisa jeli terhadap diri sendiri, bahwa kita udah mampu jadi lebih baik
dari kemarin. Kita hari ini adalah akumulasi dari apa-apa yang kita perjuangkan
kemarin. Untuk itu, penting banget punya goal, jadi tiap langkah kita akan
terarah menuju ke suatu titik dimana titik itu adalah sesuatu yang kita ingin
capai.
Terlepas dari itu semua, ada
satu-dua support system pastinya. Ya, bisa disebut orang terdekat. Dapat
dikatakan, mereka adalah energi. Support mereka ga mesti soal materi ato
bantuan lainnya, kadang cuma kehadiran mereka di dekat kita, ato sekedar
nasehat darinya udah cukup bisa melejitkan semangat kita, kok. Sejauh ini aku
diperjalankan untuk bertemu dengan orang-orang yang silih berganti, ada teman
sekolah, kuliah, di tempat bekerja, teman kajian, komunitas, yang banyak
macamnya. Macam apa? Hahaha.. maksudnya setiap kita dipertemukan oleh seseorang,
pastilah ada maksud yang Allah titipkan untuk kita belajar sesuatu darinya.
Dari situ kita tumbuh, karena siapa kita adalah siapa teman-teman kita, bukan.
Selain banyak yang silih berganti, tentunya ada pula yang menetap, dong. Jumlah
mereka tak banyak, namun sangat setia, menghadirkan waktunya, menyediakan
telinganya, membukakan beberapa kemungkinan untuk setiap penyelesaian. Dari
mereka, akupun belajar untuk bisa menjadi pribadi yang lebih terbuka.
Masih banyak ‘PR’ untuk diriku
sendiri, banyak hal harus dibenahi, beberapa perlu dirubah. Jangan pernah
menganggapku sempurna, teman. Justru jauh dari kata itu. Apa yang kalian lihat
hanyalah persepsi kalian sendiri tentang diriku. Kita belajar untuk bertumbuh
bersama, ya :)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar