Biasanya, orang yang suka nulis itu ga jauh-jauh sama suka baca juga, terutama buku. Nah kalo aku, sukanya beli buku, koleksi buku. Baca buku? Mmmm.. #gigitjari hihihi.. engga ding, ya suka baca buku juga tapi jam terbang untuk baca buku ga bisa sebanyak waktu masih sekolah. Setelah berumah tangga, rasanya untuk sekedar me time baca buku ga mudah, apalagi nemenin anak yang ada di masa aktif-aktifnya, belum lagi kewajiban rumah tangga lainnya. Tapi sejak belajar tentang manajemen waktu, pelan-pelan ku berbenah. Aktivitas membaca buku harus dialokasikan, masuk ke daily activity, entah itu sejam mungkin. Selain anak lagi ada di masa aktif, dia juga sedang di masa meniru. Nah kan kalo mau anaknya meniru apa-apa dari ibunya, maka harus layak tiru dulu dong (nampol sendiri nih tulisan).
Bicara tentang dunia tulis menulis, tak jauh dari sebuah kata penuh makna bernama literasi. Apa itu literasi? Literasi itu tentang membaca (membaca kata dan membaca dunia) dan tulis menulis. Namun lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual yang artinya kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual. Ya, se-cetek itu yang aku tahu. Rasanya sungguh bahagia bila dapat bergabung ke barisan para Pejuang Literasi. Tantangan yang luar biasa untuk terus berbagi lewat karya tulisan.
Masuk ke dunia literasi sebenarnya bukan hal baru bagiku. Ketika duduk di bangku SMA, aku mengikuti salah satu ekstrakulikuler yaitu Kelompok Ilmiah Remaja atau disingkat KIR, tentu di dalamnya ada pembahasan tentang tulis menulis hasil dari suatu penelitian berupa karya tulis. Lalu yang pernah ku hasilkan? Ga ada! (mringis dikit hihihi). Kenapa? Karena di awal mengikuti ekskul tersebut niatnya udah ga bener, jadi dulu itu nyari ekskul yang ada petualangan-petualangan ke alam, nah salah satunya itu tadi. Lainnya ada sih, kepramukaan gitu. Tapi ga terlalu aktif, karena dimanapun namanya dualisme pastilah tak mudah. Hehehe. Jadi itu awal mula belajar tentang kepenulisan. Kalo soal nulis-nulis diary sih dari SMP, karena waktu itu suka banget baca novel, jadi secara alami bakal suka nulis juga. Tapi waktu itu masih belum booming internet, jadi yaa nulis tangan, asik bener dah. Kalo sekarang mah udah hampir ga pernah nulis-nulis pake tulisan tangan, karena jemari jauh terbiasa pegang tuts qwerty laptop maupun screen pada ponsel.
Lompat ke masa kuliah, diawal-awal jadi mahasiswa, entah kenapa ekskul yang menarik bagiku waktu itu adalah jurnalistik. Menjadi bagian dari Badan Semi Otonom (BSO) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) ‘DIMENSI’ adalah pilihan pertama. Mengikuti tahap seleksi, lolos, makrab, sampai jadi jurnalis kampus, ga bertahan sampai 1 semester akhirnya mundur. Karena target yang cukup banyak menyita waktu dan perhatian, sedangkan perkuliahanku waktu itu berasa seperti pemadatan, banyak belum ditambah tugas-tugas yang deadline pula. Setidaknya, pengalaman tentang literasi ini pernah ku dapatkan, walau secuil.
Sebenernya dari cerita di atas memang ga ada yang dibanggakan, tapi seenggaknya aku sendiri jadi tahu, ternyata passionku di situ. Iya, tulis menulis. Aku pun jadi tahu bahwa Tuhan menitipkan misi spesifik hidupku didunia tulis menulis (btw aku baru makin sadar betul nih). Oya, belakangan aku merasa seperti menemukan diriku sendiri, entah ke mana di selama ini, entah menjadi apa dia selama ini. Rupanya menulis adalah hal yang telah lama ku tinggalkan, yang ternyata menulis memang merupakan panggilan jiwaku (ceielahh..).
Baca Juga: Alasan Ngeblog
Setelah kulik-kulik tentang literasi, topik yang masih saja hangat serta minimnya solusi adalah rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Dari beberapa pejuang literasi yang ada di pelosok negeri, seperti Pak Ridwan Sururi, yang dengan kuda putihnya bernama Luna, menelusuri setiap jalanan pedesaan di lereng Gunung Slamet untuk menawarkan bacaan demi menambah cakrawala pengetahuan secara cuma-cuma. Di Yogyakarta ada Mbah Topo nama akrab dari Fransiskus Xaverius Sutopo yang di usianya ke-70 tahun menyulap becaknya menjadi perpustakan berjalan, memanjakan penumpangnya dengan bacaan-bacaan yang tersedia. Adalagi, si tukang jamu dari Sidoarjo, Muhammad Fauzi. Jual jamu keliling sambil menyediakan buku-buku bacaan yang disewakan gratis ke para pelanggan, tersedia beragam genre, mulai agama, kesehatan, politik, hingga komik. Cerita ini aku ambil dari goodnewsfromindonesia.id
Setelah kulik-kulik tentang literasi, topik yang masih saja hangat serta minimnya solusi adalah rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Dari beberapa pejuang literasi yang ada di pelosok negeri, seperti Pak Ridwan Sururi, yang dengan kuda putihnya bernama Luna, menelusuri setiap jalanan pedesaan di lereng Gunung Slamet untuk menawarkan bacaan demi menambah cakrawala pengetahuan secara cuma-cuma. Di Yogyakarta ada Mbah Topo nama akrab dari Fransiskus Xaverius Sutopo yang di usianya ke-70 tahun menyulap becaknya menjadi perpustakan berjalan, memanjakan penumpangnya dengan bacaan-bacaan yang tersedia. Adalagi, si tukang jamu dari Sidoarjo, Muhammad Fauzi. Jual jamu keliling sambil menyediakan buku-buku bacaan yang disewakan gratis ke para pelanggan, tersedia beragam genre, mulai agama, kesehatan, politik, hingga komik. Cerita ini aku ambil dari goodnewsfromindonesia.id
Aku menaruh kagum, bangga, apresiasi setinggi-tingginya, sekaligus malu pada mereka. Di tengah keterbatasan, mereka bisa memberi secerah harapan untuk lingkungannya membangkitkan budaya membaca. Sedangkan aku, yang dititipi berbagai fasilitas serta kemudahan justru tak berbuat apa-apa. Lalu bagaimana pertanggung jawabanku atas waktuku kelak?
Sebuah komitmen untuk menjawab teka-teki tentang ke mana kebermanfaatan akan aku labuhkan. Bersiap untuk bergabung ke barisan para Pejuang Literasi.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar